Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2014

Akses Internet Masa Depan Menggunakan Cahaya


Sebuah start-up di Inggris membuat sebuah terobosan baru dalam hal teknologi koneksi akses internet. Terobosan itu berupa sinyal atau  koneksi internet  yang dulunya dapat dihantar melalui WiFi yang berasal dari frekuensi radio, kini dapat dipancarkan melalui sebuah bola lampu LED menggunakan spektrum cahaya.

Teknologi yang dikenal dengan nama PureLiFi, diciptakan oleh ilmuwan bernama Profesor Harald Haas. Dia siap untuk mengumumkan penemuannya ini, yang diklaim pertama kali ditemukan di dunia.
Hal itu menarik minat sejumlah klub investor teknologi dan membuat mereka sejutu untuk mendanai pengembangannya dengan nilai investasi sekira USD10 juta (Rp120 miliar).

LiFi memanfaatkan spektrum cahaya VLC (Visible Light Communication) untuk mengirimkan informasi. Berbeda dengan WiFi yang  menggunakan frekuensi radio (RF) untuk mengirimkan data. VLC masuk ke dalam kategori Optical Wireless Communications (OWC). OWC meliputi infra-red, ultra-violet communication juga visible light.

Dikutip melalui Telegraph, Senin (13/10/2014), prosesor Haas mengatakan, proyek ini merupakan bagian dari internet of things. Dia juga mengarapkan PureLiFi akan menjadi standar untuk pengembangan jaringan 5G di masa depan.

“Permintaan industri di seluruh dunia untuk produk ini menunjukkan bahwa LiFi dipandang sebagai teknologi transformatif yang dapat mengubah cara kita menggunakan internet,” kata Harald.(okezone.com)

Teknik Napas Ini Cegah Stres


STRES memang tidak baik bagi kesehatan. Namun sayangnya, siapa pun tidak bisa menghindari stres.

Menurut Ritu Baveja, instruktur yoga dan pelaku hidup sehat, saat stres, ada beberapa bagian tubuh yang akan mengalami dampaknya secara langsung.

"Saat kita stres, leher dan bahu sering sekali terasa tegang. Kondisi inilah yang disebabkan oleh stres," kata Ritu di Jakarta, belum lama ini.

Tidak hanya rasa tegang pada daerah leher dan bahu, stres juga bisa menyerang bagian lain. Sebut saja seperti bagian punggung dan perut.

"Anda seringkali merasakan sakit pada bagian punggung tanpa penyebab yang jelas. Selain itu yang umum terjadi saat stres adalah rasa tidak enak pada bagian perut. Anda kemudian merasa tidak nyaman pada bagian perut," terangnya.

Kendati demikian, banyak cara untuk mengatasi stres. Salah satunya yang paling sederhana, menurut Ritu, mengambil napas dalam-dalam.

"Cara sederhana untuk meredakan stres dengan bernapas. Bukan sekadar bernapas yang seperti kita lakukan tiap detiknya, namun bernapas dalam teknik deep breathing. Teknik tersebut bisa membantu mengurangi stres dan membuat tubuh jadi rileks,” tutupnya .(okezone.com)

Minggu, 12 Oktober 2014

Peneliti Temukan Cara Deteksi Kematian Manusia


Peneliti melakukan studi pada lebih dari 3.000 orang berusia 57 sampai 85 tahun. Ditemukan bahwa 39 persen dari total 3.000 orang yang gagal dalam pengujian indera penciuman, meninggal dalam waktu lima tahun.

Dilansir Abc, Kamis (2/10/2014), peneliti menguji partisipan dengan cara mengetes indera penciuman mereka untuk merasakan bau seperti ikan, jeruk, mawar, bahan kulit serta peppermint.

Ditemukan bahwa mereka yang gagal dalam pengujian indera penciuman tersebut meninggal dalam waktu lima tahun. Penelitian yang dilaporkan pada jurnal PLOS One ini mengungkap teknik yang digunakan sebagai prediktor dari meningkatnya risiko kematian.

Peneliti memiliki penilaian untuk tingkat keparahan indera penciuman. Untuk mereka yang mengalami gangguan penciuman menengah atau sedang, maka rata-rata risiko kematian dalam waktu lima tahun sebesar 19 persen.

Sementara untuk mereka yang masih memiliki indera penciuman normal sebesar 10 persen. "Dibandingkan seseorang dengan indera penciuman normal, seseorang dengan ketidakmampuan indera penciuman memiliki risiko tiga kali lebih besar meninggal dalam rentang lima tahun," kata peneliti Jayant Pinto di University of Chicago.

Menurut peneliti, indera penciuman bisa sebagai indikator bagi kesehatan seseorang secara keseluruhan. Jayant Pinto merupakan ahli atau spesialis dalam bidang genetika dan pengobatan penyakit penciuman dan sinus. (techno.okezone.com)

Sabtu, 11 Oktober 2014

Peneliti Temukan Cara Menghapus Ingatan


Siapa pun yang pernah menonton Film Men In Black pasti familiar dengan perangkat berteknologi cahaya yang sering digunakan J (Will Smith) dan K (Tommy Lee Jones). Perangkat ini mampu menghapus ingatan siapa pun yang melihat kilasan cahaya yang muncul.

Peneliti di California berupaya mewujudkan teknologi tersebut menjadi kenyataan. Mereka menggunakan cahaya untuk menghapus memori spesifik di tikus dan membuktikan teori dasar mengenai bagaimana bagian otak yang berbeda bekerja berbarengan ketika mengambil memori tertentu, melansir Dailymail, Sabtu (11/10/2014).

Teknik ini dikenal sebagai optogenetics dan dipelopori oleh Karl Diesseroth dari Universitas Stanford. Optogenetics adalah cara untuk memanipulasi dan mempelajari sel saraf menggunakan cahaya. Pada perkembangannya, optogenetics menjadi metode standar untuk menyelidiki fungsi otak.

Kuzumasa Tanaka, Brian Wiltgen dan koleganya dari Universitas California, Davis mengaplikasikan teknik untuk mengujicoba ide lama mengenai pengambilan kembali memori lampau yang lama terlupakan.

Selama hampir 40 tahun, ujar Wiltgen, ilmuwan neurologi telah melahirkan teori tentang pengambilan memori episodik. Memori jenis ini adalah ingatan tentang tempat dan even spesifik, melibatkan aktivitas terkoordinasi antara cerebral cortex dan hippocampus, sebuah struktur yang tertanam jauh di dalam otak.

Cara Kerja Otak
Wiltgen mengatakan teori ini mengatakan bahwa proses belajar melibatkan sebuah proses di cortex. Selanjutnya, hippocampus memproduksi pola aktivitas tertentu pada saat pengambilan memori, memungkinkan individu untuk mengalami kembali peristiwa yang dimaksud.

Jika hippocampus rusak, maka individu dapat kehilangan memori selama beberapa dekade hidupnya. Hanya saja, teori tersebut tidak bisa diujicoba hingga kemunculan optogenetics.

Wiltgen dan Tanaka menggunakan tikus yang diubah susunan genetisnya agar bisa diketahui saat sel sarafnya diaktifkan, ada warna hijau yang menandakan protein dan sel tersebut bisa dimatikan dengan cahaya.

Peneliti pun mampu mengikuti sel saraf mana di bagian cortex dan hippocampus yang menjadi aktif dalam proses pembelajaran dan pengambilan memori . Lalu mematikannya kembali dengan cahaya lewat kabel fiber optik. Proses ini pun memungkinkan terjadinya penghapusan ingatan.

Tikus yang diujicoba sebelumnya disimpan di kandang dan disetrum secara halus. Biasanya, tikus yang ditempatkan di wilayah baru akan mengendus dan menjelajahi sekitarnya. Setelah dihapus memorinya, tikus tersebut diam di tempat.

Tanaka dan Wiltgen menyatakan mampu menandai sel yang terlibat di proses pembelajaran dan telah berhasil menunjukan bahwa mereka mampu mengaktifkan kembali memori yang terlibat.

Prosesnya adalah, para peneliti mematikan sel saraf spesifik di bagian hippocampus dan menyimpulkan tikus tersebut hilang ingatannya saat ia pernah disetrum di kandang.

Kamis, 09 Oktober 2014

Peneliti Berhasil Temukan Kehidupan Setelah Mati

dari : http://techno.okezone.com/





Penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Southampton mengindikasikan adanya kehidupan setelah mati. Peneliti menghabiskan empat tahun untuk mempelajari 2 ribu lebih orang yang terkena serangan jantung dari Britania Raya, Amerika Serikat dan Austria. 

Ditemukan hampir 40 persen orang yang berhasil dihidupkan kembali mengalami perasaan “sadar” di saat mereka divonis mati secara klinis. Seorang pria mengatakan ia meninggalkan tubuhnya lalu menyaksikan dokter berupaya menghidupkan kembali jantungnya. 

Menurut laporan Syracuse, Jumat (10/10/2014) yang mengutip Telegraphmengungkapkan, dalam keadaan tidak sadar dan mati selama tiga menit, pria pekerja sosial berusia 57 tahun ini menceritakan tindakan staf medis secara detail.

Sam Parnia, mantan peneliti Universitas Southampton yang memimpin penelitian mengatakan bukti yang terlihat saat ini menyimpulkan bahwa  dalam beberapa menit pertama setelah kematian, masih ada kesadaran. Ia menyebutkan “perasaan sadar” tetap berlanjut hingga tiga menit setelah jantung tidak berdetak, bahkan ketika otak telah berhenti berfungsi selama 20-30 detik.

Beberapa pasien merasakan waktu menjadi lambat atau lebih cepat. Satu dari lima pasien menggambarkan “perasaan damai yang tidak biasa”. Sebagian kecil merasakan “terpisah dari tubuh mereka” atau mengalami “peningkatan fungsi indera”.

Ada juga pasien yang melihat cahaya terang, sinar emas atau matahari bersinar. Yang lain, merasakan perasaan takut, tenggelam atau seperti diseret ke dasar air. 

Sam mengatakan kebanyakan orang menganggap kalau perasaan seperti itu hanya halusinasi atau ilusi, namun pasien yang diteliti disimpulkan seakan terhubung dengan kejadian sesungguhnya. Berdasarkan penelitian ini, dari 2060 pasien serangan jantung yang diperiksa, 330 selamat dan 140 mengalami perasaan “sadar” seperti yang dijelaskan. (ahl)